Kembali ke Artikel
Arini Soengkono, Bergulat dengan Aksara di Usia Senja Sumber Gambar: Dokumentasi Penulis
20 Aug/2019

Arini Soengkono, Bergulat dengan Aksara di Usia Senja

Arini Soengkono, Bergulat dengan Aksara di Usia Senja

Oleh Endang Saptarina

 

Sosok perempuan kelahiran 78 tahun yang lalu itu masih tampak enerjik dan bersemangat mengikuti pelatihan jurnalistik yang diselanggarakan oleh mediaguru.id di auditorium FMIPA Universitas Negeri Surabaya. Sabtu, 10 Agustus 2019, perempuan dengan rambut yang sudah penuh dengan warna putih itu berangkat ke Surabaya untuk menimba ilmu kepenulisan. Jarak yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya, Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri tidak menyurutkan semangatnya.

Arini Soengkono namanya. Dia menjadi satu-satunya peserta pelatihan dengan usia yang sudah lanjut. Dia tidak rendah diri duduk di antara para peserta yang rata-rata masih muda bahkan banyak peserta yang masih usia sekolah menengah.

Motivasi Arini ikut pelatihan jurnalistik adalah maraknya berita hoaks di media sosial yang dengan gampang ditelan mentah-mentah oleh warganet. Perempuan yang sekarang menikmati hari tua sebagai pensiunan Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi itu berharap, dengan mengikuti pelatihan jurnalistik, dia akan memperoleh wawasan mengenai cara menulis berita yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya sehingga tidak meracuni warganet.

Sepanjang hidupnya, Arini pernah menerbitkan sebuah buku berjudul Hidup di Pengungsian Pascakemerdekaan RI. Di dalam buku itu dia menceritakan kisah nyata yang pernah dialami saat dia dan keluarganya harus mengungsi untuk menghindari serangan pasukan sekutu. Peristiwa itu terjadi saat pecahnya Agresi Militer Belanda ke-2. Arini kecil yang berusia kurang lebih enam tahun harus ikut keluarganya berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Ada tiga desa yang pernah dia dan keluarganya singgahi, salah satunya adalah Desa Paran.

“Saya masih dengan jelas bisa mengingat betapa mengharukan penerimaan penduduk desa yang kami datangi. Semangat gotong royong dan saling membantu begitu membekas di hati saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Pada masa perjuangan itu, salah satu kerabatnya menjadi korban kekejaman penjajah dalam peristiwa Palagan Ambarawa tahun 1949. Peristiwa-peristiwa pahit yang pernah dia alami saat hidup di masa perjuangan itulah yang membuat Arini menaruh harapan besar terhadap generasi penerus bangsa Indonesia.

“Generasi muda harus melanjutkan perjuangan  dengan meraih prestasi, memberikan manfaat kepada bangsa dan negara Indonesia tercinta. Sebab perjuangan belum selesai. Perjuangan adalah jembatan emas untuk menuju generasi Indonesia Emas tahun 2045,” pesan Arini menutup perbincangan dengan peserta pelatihan jurnalistik.

 

* Endang Saptarina adalah peserta pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh mediaguru.id

JELAJAH