Kembali ke Artikel
Memupuk Keterampilan Menulis di Sekolah Sumber Gambar: trentech.id
20 Aug/2019

Memupuk Keterampilan Menulis di Sekolah

Memupuk Keterampilan Menulis di Sekolah

Oleh Nurhayati, S.Pd.

 

Pada proses pembelajaran di sekolah selalu saja menitikberatkan pada aspek kognitif. Bagi peserta didik yang mampu, tentu saja hal ini tidak menjadi masalah. Berbeda dengan peserta didik yang kognitifnya kurang, namun mampu di bidang  seni, olahraga, terampil berbicara, dan terampil menulis. Perkembangan dunia menuju era Revolusi Industri 4.0 dan keterampilan pada abad 21 harus dicermati, disiasati dengan berbagai kegiatan yang mampu menggali potensi peserta didik, tenaga pengajar, dan tenaga kependidikan. Sesuai dengan gerakan pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia era Anies Baswedan ketika meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah tentang “Bahasa Penumbuh Budi Pekerti.” Sesuai dengan Pemendikbud No. 21 Tahun 2015 yang wajib dilaksanakan di sekolah. Literasi di sekolah dapat diterapkan selama lima belas menit sebelum pembelajaran dimulai.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian literasi adalah: 1) kemampuan menulis dan membaca; 2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu-komputer; dan 3) kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Pengertian literasi yang lain adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat  keahlian tertentu yang diperlukan  dalam kehidupan sehari-hari (Ibnu Aji Setyawan, 1998).

Agar program literasi di sekolah berjalan dengan baik maka perlu ada latihan menulis terhadap siswa ataupun diadakan pelatihan menulis bagi guru. Akhirnya saya mengikuti pelatihan menulis yang diadakan oleh MediaGuru yang dikenal dengan istilah sagusabu (satu guru satu buku). Dalam jangka waktu dua hari pelatihan yang diikuti mampu memaksa diri saya membuat buku. Seluruh peserta diajarkan cara menulis buku. Mulai dari tuntunan membuat outline, mengenal jenis-jenis buku, membuat sinopsis, dan mengetahui trik jitu untuk membuat judul buku agar menarik dan menjadi perhatian pembaca.

Outline merupakan garis besar atau ikhtisar atau inti-inti kita dalam menulis. Itu bisa dijadikan pedoman kita ketika hendak menulis. Ketika buku perdana saya terbit, serasa mimpi namun fakta. Ternyata menulis bukanlah hal yang sulit dan sebagian orang masih enggan untuk menulis. Buku-buku yang berhasil saya tulis itu ada yang karya tunggal, karya bersama, dan karya bersama hampir seribu guru.

Saya tidak ingin merasakan kecanduan ini sendiri. Saat saya menjabat sebagai wakil kepala sekolah, lewat kepala sekolah, saya sampaikan bahwa literasi ini harus dimulai. Dengan program yang telah dirancang, yaitu setiap pada Rabu pagi kami seluruh warga sekolah melaksanakan program itu. Siswa dan siswi wajib membawa buku fiksi, begitu juga dengan gurunya. Sekitar lima belas menit pertama mereka membaca, kemudian akan ditanyakan satu per satu tentang buku yang dibaca dan mampu menceritakan kembali kepada teman-temannya saat itu. Kegiatan ini berlangsung dengan tertib dan sangat antusias karena ketika ia mampu menjelaskan apa yang dibaca, mereka langsung diberi hadiah oleh kepala sekolah.

Tidak puas dengan program literasi yang ada di sekolah, akhirnya saya dengan perlahan-lahan mengajak kepala sekolah, teman-teman sejawat, dan tak lupa sasaran empuk saya adalah peserta didik tercinta untuk membuat dan menciptakan buku sendiri. Sebagai motivasi untuk mereka selain mengajak secara langsung, meng-interview mereka, dengan gaya melenggang saya membawakan buku-buku hasil karya saya ke dalam kelas, dan kepala sekolah. Saya menyerahkan buku karya saya ke kepala sekolah. Kepada peserta didik saya menyampaikan bahwa semua orang bisa menulis, bahkan bisa menjadi penulis andalan.

Mereka tertarik bahkan di antaranya ada yang hobi menulis.  Begitu juga dengan para guru. Support dan motivasi terus saya berikan setiap hari tanpa bosan dan jemu. Sampai teman-teman bilang password saya adalah apa yang saya lihat, apa yang saya alami, apa yang saya dengar “pasti bisa dijadikan sebuah buku”. Begitulah ungkapan saya setiap kali bertemu dengan mereka agar tertarik ke dunia tulis menulis. Namun, perjuangan belum berakhir.

Setelah saya dimutasi ke sekolah yang baru dan saat itu menjabat sebagai kepala sekolah, saya tetap membuat dan melaksanakan program literasi di sekolah itu. Jujur, di sekolah tersebut program literasi belum bisa berjalan dengan maksimal. Saya masuk di sekolah tersebut pada tahun ajaran semester genap dan telah berjalan program sekolahnya. Tapi, ada hal yang membahagiakan saya, yaitu di sekolah saya yang lama telah tumbuh spirit menulis kepala sekolahnya, guru-guru telah mau berjuang dan menerbitkan bukunya walau masih karya bersama. Begitu juga dengan peserta didiknya, buku antologi puisinya lolos seleksi LCPN.

 

*Nurhayati, S.Pd. adalah Kepala Sekolah SMPN 56 Batam

 

JELAJAH