Kembali ke Artikel
Pendidikan Berbasis Minat dan Bakat Pixabay
17 Jul/2019

Pendidikan Berbasis Minat dan Bakat

Sekarang ini pemikiran-pemikiran modern tentang pendidikan banyak bermunculan. Contohnya, pemberian sangsi kepada anak oleh guru yang lebih mendidik, pembelajaran yang lebih mengutamakan pendidikan karakter dibanding kognitif, hingga gagasan tentang tidak diperlukannya pemberian PR kepada siswa.

Dari sekian banyak pemikiran tersebut saya lebih tertarik membahas tentang pendidikan berbasis minat dan bakat anak. Pemikiran ini juga bukan hal baru. Sudah sering kita mendengar bahwa bakat anak berbeda-beda sehingga jangan men-judge anak yang tidak pandai matematika itu bodoh secara keseluruhan. Bisa saja kemampuannya ada di bidang lain. Namun, pentingnya minat dan bakat anak ini gaungnya belum terlalu keras. Pengembangan minat dan bakat anak baru sebatas anjuran yang sebaiknya dilakukan orang tua dan guru. Tentu hal itu akan berdampak kurang signifikan. Hanya orang tua dan guru yang menyadarinya saja yang akan melakukannya.

Berbeda jika kita bandingkan dengan pendidikan di Finlandia. Sudah bukan hal baru jika negara itu menjadi panutan menjalankan sistem pendidikan yang baik (walaupun sekarang predikat negara dengan sistem pendidikan terbaik bukan lagi milik Finlandia). Sayangnya, yang lebih sering dibahas kebanyakan orang dari sistem pendidikan di Finlandia adalah tentang tidak ada PR, tidak ada ujian nasional, dan waktu belajar yang tidak lama (5 jam).

Padahal, satu hal lagi yang luput dari perhatian adalah mutu sekolah di Finlandia semuanya sama. Tidak ada sekolah unggulan atau sekolah favorit. Sebenarnya, di Indonesia juga sudah mulai diwujudkan dengan sistem zonasi pada penerimaan peserta didik baru pada sekolah negeri. Siswa diharapkan mendaftar di sekolah yang dekat dengan rumah. Orang tua tidak perlu mencari sekolah yang jauh jaraknya karena semua sekolah kualitasnya sama, tidak ada yang menyandang status favorit.

Hal yang membedakan dari tiap sekolah di Finlandia adalah bahasa asing dan kegiatan olahraga. Jadi, orang tua dapat memilih sekolah yang sesuai dengan bakat olahraga siswa. Pada pembahasan ini kegiatan olahraga tersebut saya kaitkan dengan ekstrakurikuler.

Di Indonesia, wadah untuk menyalurkan bakat anak adalah kegiatan ekstrakurikuler. Terkadang kegiatan tersebut dipandang sebelah mata, hanya untuk formalitas. Tak jarang siswa memilih ekstrakurikuler asal-asalan. Pandangan tersebut harus diubah. Perlu peran pemerintah untuk mewujudkannya. Pemerintah bisa mengikuti Finlandia, yaitu mengharuskan tiap sekolah memiliki spesialisasi ekstrakurikuler. Dengan demikian, orang tua dapat memilih sekolah yang memiliki ekstrakurikuler unggulan sesuai minat dan bakat anak. Spesialisasi ekstrakurikuler bukan berarti sekolah itu hanya mengadakan satu ekstrakurikuler. Sekolah juga tetap mengadakan ekstrakurikuler lainnya, namun ada satu ekstrakurikuler yang diunggulkan baik dari segi fasilitas, pengajar, hingga prestasi.

Hal ini akan berjalan efektif jika orang tua atau anak sudah tahu apa minat dan bakatnya. Bagaimana bagi mereka yang belum tahu minat dan bakatnya? Sekolah wajib melakukan tes bakat. Dari situ, pihak sekolah dapat mengarahkan ekstrakurikuler yang tepat untuk siswa. Jadi, idealnya, setiap siswa wajib mengikuti ekstrakurikuler yang sesuai minatnya.

Untuk mendukung ini, pemerintah harus menyediakan anggaran khusus bagi tiap sekolah untuk pengadaan fasilitas ekstrakurikuler, pelatihan dan honor pengajar ekstrakurikuler. Selain itu, pemerintah sebaiknya juga memiliki data base SDM yang kompeten di bidangnya yang bisa menjadi rekomendasi bagi sekolah untuk merekrutnya menjadi pengajar ekstrakurikuler.

Pada akhirnya, ekstrakurikuler yang diikuti anak bukan lagi sebagai formalitas. Namun, menjadi hal penting dan serius yang dilakukan siswa sebagai bagian dari pelaksanaan pendidikan di sekolah.

Mengapa pendidikan berbasis minat dan bakat penting?
Mengetahui bakat dan minat itu penting bagi kehidupan seseorang di masa depan. Sama pentingnya dengan kemampuan matematika yang sering diagung-agungkan oleh kebanyakan orang. Menyadari minat dan bakat terlihat tidak terlalu berpengaruh di masa SD sampai SMA. Namun, di akhir masa SMA baru akan terasa penting. Di masa itu, siswa harus menentukan pilihan jurusan kuliahnya. Di saat itulah tak sedikit lulusan SMA yang bingung memilih jurusan kuliah. Jika sudah tahu minat dan bakatnya tentu menentukan pilihan tidaklah susah.

Lebih jauh lagi, di zaman sekarang, kecerdasan intelektual tidak menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan seseorang dalam bersaing, khususnya di dunia kerja. Sebagai contoh, Google sudah tidak memerlukan ijazah bagi orang yang ingin melamar di sana. Apa pun latar belakang pendidikan orang tersebut berpeluang diterima Google, asalkan punya kemampuan dan potensi sesuai kriteria Google. Ketekunan menggeluti bidang minat dan bakat sejak dini akan mendukung semakin mendalamnya skill seseorang. Sehingga seseorang akan memiliki keunikan dibanding individu yang lain dan itu akan membantu dalam melewati berbagai persaingan di kehidupan ini.

Oleh Raimundus Brian Prasetyawan Guru SDN Sumur Batu 01 Jakarta

JELAJAH