Judul: Bunga Itu Patah Kemarin Sore, Tuan
Editor: Khoen Eka Anthy S.A.
Halaman: vi, 116 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan: Pertama, Januari 2026
Penerbit: Pustaka Mediaguru
Anggota IKAPI No. 192/JTI/2017
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya 60286
Website: www.mediaguru.id
ISBN:
Harga:
SINOPSIS
Di kebun tersembunyi pada dinding tua yang masih kokoh, setiap tanaman memiliki cerita. Ada tanaman seperti mawar yang menumbuhkan duri tetapi bukan untuk melukai. Lalu kaktus yang merindukan pelukan meski tubuhnya diselimuti duri layaknya benteng pertahanan. Sekuntum lili anggun yang tangkainya patah pada suatu sore yang kelabu. Atau bahkan bunga liar yang belum pernah dijumpai sebelumnya, di tempat paling mustahil, menandakan bahwa kehidupan bisa mekar di mana saja.
Dari semua kisah tentu ada saja hal yang membuat tukang kebun kadang ingin menyerah dan mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Mungkin di mata dunia dan orang di luaran sana, layu adalah kegagalan. Tetapi, di balik keheningan kebun bunga itu, sang penjaga kebun menjadi saksi dari segala bentuk keajaiban-keajaiban kecil. Patah bukan berarti akhir. Bahkan, ada tangkai terluka yang bersikeras menolak untuk layu hingga dari sisi lainnyanya muncul kuncup baru yang berusaha mekar kembali agar tetap bisa merasakan hangatnya mentari. Mari kita bayangkan, apakah harapan bisa terus tumbuh bahkan dari luka yang paling dalam? Atau jangan-jangan indahnya bunga lahir dari sebuah kerapuhan?
Novel ini kumpulan cerita lirih tentang sebuah usaha untuk bertahan dan terus tumbuh. Bukan tentang sebuah taman sempurna yang selalu diisi bibit tanaman paling unggul, melainkan tentang tanaman yang tetap berusaha tumbuh walau diterpa badai. Terkadang kita butuh patah dulu untuk bisa menemukan cara mekar yang sesungguhnya.