Kembali ke Artikel
Harmoni Pedagogi Kritis
31 Dec/2025

Harmoni Pedagogi Kritis

Judul: Harmoni Pedagogi Kritis

Penulis: Rusmiyatih, Latif Nur Hasan, Dwi Imroatu Julaikah, Respati Retno Utami, Joko Prasetyo, Mukhzamilah, Lutfi Saksono, Yovinza Bethvine Sopaheluwakan

Editor: Djodjok Soepardjo

Halaman: xiv, 150 hlm, 15,5 x 23 cm

Cetakan: Pertama, Januari 2026

Penerbit: Pustaka Mediaguru

Anggota IKAPI No. 192/JTI/2017

Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya 60286

Website: www.mediaguru.id

ISBN:

Harga:

 

SINOPSIS

 

Diakui atau tidak, perkembangan dunia sampai semaju saat ini, disebabkan oleh keharmonisan temuan dan integrasi dari beragam pemikiran yang muncul. Keharmonisan itu tentunya mengedepankan keunggulan dan meminggirkan kelemahan. Fakta satu dengan yang lain saling melengkapi. Temuan yang satu dengan yang lain saling membantu dan memuncak pada tindakan yang terbarui. Harmonisasi pembelajaran berdimensi kritis pun berjalan secara berimbang, sepadan, dan seirama.

Perlu dipahami dengan jiwa terbuka bahwa proses menuju keharmonisan akan menghadapi tantangan. Tantangan tersebut kira-kira adalah kepentingan politik, bias kognitif, kesenjangan akses, perspektif subjektif, dan hegemoni budaya. Anggap saja, pernyataan tersebut hanyalah pengingat dan sekaligus panduan etis. Kemajuan yang sejati dan berkelanjutan harus diperjuangkan melalui ruang dialektik yang terbuka, pertukaran gagasan yang bebas namun bertanggung jawab, serta semangat kolaborasi untuk saling melengkapi.

Dalam buku ini para penulis mencoba menjawab bagaimana cara menjadikan Harmoni Pedagogi Kritis melalui pemikiran dan wawasan sesuai bidang keilmuan yang dimilikinya. Aspek penting yang ditekankan adalah keharmonisan pembelajaran bahasa dan sastra berdimensi kritis yang tidak memunculkan egoisitas kepakaran seseorang. Seorang pakar pembelajaran bahasa dan sastra justru sangat terbuka dalam segala kemungkinan, kebaruan, dan keunikan yang lahir tiba-tiba. Hal itu menunjukkan bahwa proses keharmonisan bukanlah penerimaan pasif, spasial, dan terbatas dengan keilmuan masing-masing tetapi aktivitas kognitif aktif, terbuka, dan plurilingual yang kritis. Pembelajaran yang harmonis sejatinya harus mampu menyeimbangkan berbagai pendekatan, menimbang bukti, dan menyelaraskan kontradiksi melalui nalar kritis.

 

 

JELAJAH